Saya dan 3 orang sahabat saya yaitu Ana, Fajar, dan Mario. Kami dari Surabaya naik motor menuju Madura. Jalan tol untuk motor gratis (alhamdulillah lumayan). Kami makan siang di Bebek Sinjay (yang terkenal itu). Kemudian kami menuju batu kapur, Jaddih dengan pemandu Ana Maghfirah (asli Sumenep, Madura). Sampai disana sekitar setengah jam perjalanan. Disana banyak banget spot spot bagus, ada juga yang foto prewed disana :D untuk mengelilingi gunung tersebut sekitar 3 jam + foto-foto ya. Bisa juga naik ke atasnya dengan naik mobil.
Minggu, 30 Agustus 2015
Kalibiru, Kulonprogo, Yogyakarta
Menuju Kalibiru saya dari desa Kaligintung, Kulonprogo sekitar kurang lebih 1 jam. Saya sampai disana sekitar jam 4 sore. Saat itu long weekend jadi banyak pengunjungnya, apalagi banyak yang antri untuk duduk di atas pohon yg lagi hits itu. Karena tidak kebagian, jadi saya balik agar tidak kemalaman saat sampai di yogya.
Sabtu, 14 Maret 2015
Kista Dentigerus
Kista
Dentigerus
1. Definisi
Kista
dentigerous adalah kista yang terbentuk disekitar mahkota gigi yang belum
erupsi. Kista ini mulai terbentuk bila cairan menumpuk di dalam lapisan-lapisan
epitel email yang tereduksi atau diantara epitel dan mahkota gigi yang belum
erupsi. Kista ini merupakan jenis kista terbanyak setelah kista radikuler.
Tumbuh paling sering di regio posterior mandibula atau maksila dan umumnya
berkaitan dengan gigi molar ketiga. Predileksi tumbuh tersering kedua adalah di
regio kaninus yang dikaitkan dengan gigi kaninus impaksi. Kista jenis ini dapat
ditemukan pada semua jenis usia dengan predileksi terbesar pada usia 20 tahun.
Kista dapat tumbuh dalam ukuran besar dengan diameter mencapai 10-15 cm.Kurt H
Thoma (1969) mengatakan bahwa kista dentigerous adalah suatu kantong yang
dibungkus oleh epitelium yang terjadi dari enamel organ yang berhubungan dengan
mahkota gigi yang tidak erupsi. Mervyn Shear (1992) mendefinisikan kista
dentigerous sebagai kista yang menutupi gigi yang belum erupsi dengan perluasan
folikelnya dan menyerang hingga keleher gigi. Menurut Gordon W Pedersen (1996),
kista dentigerous adalah pembesaran ruangan folikular di sekitar gigi yang
belum erupsi.
2. Prevalensi
Kista
dentigerous merupakan kista odontogenik perkembangan yang mengelilingi
mahkota gigi yang tidak erupsi, terjadi akibat akumulasi cairan antara epitel email tereduksi,paling sering terjadi pada molar tiga mandibula. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui berapa besar prevalensi kista dentigerous pada pasien akibat impaksi gigi molar tiga bawah yang berkunjung ke bagian Bedah Mulut dan Maksilofasial RSUP Dr.Hasan Sadikin Bandung. Penelitian ini menggunakan metode survei deskriptif. Sampel penelitian diambil dari data rekam medis pasien selama periode Juli 2006 รข€“ Juni 2011. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 316 (0,78%) kasus kista oromaksilofasial pada periode tersebut. Kista dentigerous merupakan jenis kista odontogenik terbanyak yang ditemukan yaitu sebesar 48,64%. Kista dentigerous paling banyak disebabkan oleh impaksi gigi molar tiga bawah yaitu sebesar 13,89%. Penderita kista dentigerous akibat impaksi gigi molar tiga bawah pada laki-laki sama jumlahnya dengan perempuan yaitu masing-masing sebesar 50%. Kelompok umur yang paling banyak menderita kista dentigerous akibat impaksi gigi molar tiga bawah adalah kelompok umur 41-50 tahun yaitu sebesar 40%. Terapi yang paling sering dilakukan adalah enukleasi sebanyak 100%. Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa kista dentigerous paling banyak disebabkan impaksi gigi molar tiga bawah, dengan frekuensi pada laki-laki sama dengan perempuan, paling banyak diderita oleh kelompok umur 41-50 tahun, dan terapi yang paling banyak dilakukan adalah enukleasi.
mahkota gigi yang tidak erupsi, terjadi akibat akumulasi cairan antara epitel email tereduksi,paling sering terjadi pada molar tiga mandibula. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui berapa besar prevalensi kista dentigerous pada pasien akibat impaksi gigi molar tiga bawah yang berkunjung ke bagian Bedah Mulut dan Maksilofasial RSUP Dr.Hasan Sadikin Bandung. Penelitian ini menggunakan metode survei deskriptif. Sampel penelitian diambil dari data rekam medis pasien selama periode Juli 2006 รข€“ Juni 2011. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 316 (0,78%) kasus kista oromaksilofasial pada periode tersebut. Kista dentigerous merupakan jenis kista odontogenik terbanyak yang ditemukan yaitu sebesar 48,64%. Kista dentigerous paling banyak disebabkan oleh impaksi gigi molar tiga bawah yaitu sebesar 13,89%. Penderita kista dentigerous akibat impaksi gigi molar tiga bawah pada laki-laki sama jumlahnya dengan perempuan yaitu masing-masing sebesar 50%. Kelompok umur yang paling banyak menderita kista dentigerous akibat impaksi gigi molar tiga bawah adalah kelompok umur 41-50 tahun yaitu sebesar 40%. Terapi yang paling sering dilakukan adalah enukleasi sebanyak 100%. Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa kista dentigerous paling banyak disebabkan impaksi gigi molar tiga bawah, dengan frekuensi pada laki-laki sama dengan perempuan, paling banyak diderita oleh kelompok umur 41-50 tahun, dan terapi yang paling banyak dilakukan adalah enukleasi.
3. Patofisiologi
Sisa-sisa
epitel atau glands of serres yang tersisa setelah terputusnya dental lamina.
Ini merupakan penyebab keratosis odontogenik. Juga dapat menjadi penyebab
beberapa kista odontogenik developmental lainnya, seperti kista gingival dan
kista lateral periodontal.
Epitel
email tereduksi yang berasal dari organ email dan mennutupi gigi impaksi yang
sudah terbentuk sempurna.Kista dentigerous , kista erupsi, dan kista paradental
inflamatorry berasal dari jaringan ini.
Sisa-sisa
malasses yang terbentuk melalui fragmentasi dari ephithelial root sheath of hertwig.
Seluruh kista radikuler berasal dari sisa jaringan ini.
4. Etiologi
Kista dentigerous merupakan kista
yang terbentuk di sekitar mahkota gigi dan melekat pada cemento-enamel junction
gigi yang tidak erupsi (Cawson, 2002). Secara kasat mata, bentuk kista
dentigerous dapat dilihat pada grossspecimen. Kista dentigerous juga disebut
sebagai kista folikular sebab merupakan hasil pembesaran folikel, berasal dari
akumulasi cairan antara reduced enamel epithelium dan enamel gigi (Regezi,
2003).
5.
Pemeriksaan Penunjang
a.
Radiografi
A.1 Kista dentigerous sentral

Kista
mengelilingi mahkota secara asimetris, menggerakkan gigi kearah yang berlawanan
dengan erupsi normal (Cawson, 1991).
A.2 Kista dentigerous lateral

Pada
tipe lateral, kista berkembang pada sisi mesial dan distal dari gigi dan meluas
jauh dari gigi, hanya menutupi sebagian mahkota gigi, menyebabkan miringnya
gigi kearah yang tidak diliputi kista (Cawson, 1991).

A.3 Kista dentigerous
sirkumferensial
Pada
tipe sirkumferensial, seluruh organ enamel di sekitar servikal gigi menjadi
kistik, sering menyebabkan gigi bererupsi menembus kista sehingga menghasilkan
gambaran seperti radkular (Cawson, 1991).
Kista
dentigerous biasanya memiliki korteks yang berbatas jelas dengan outline
berbentuk kurca atau sirkuler. Jika terjadi inflamasi korteksya hilang.Lesi
berbentuk unilokular, namun efek multilokular dapat dihasilkan dari ridge dinding tulang. Kista dentigerous
biasanya soliter, bila terlihat multiple disertai sindrom nevoid basal sel
karsinoma (Cawson, 1991).
b.
Histopatologi
Fibrosa jaringan pendukung pada
kista ini biasanya menunjukan adanya epitel Squamos yang strafikasi. Pada kista
dentigerous yang tidak terinflamasi memiliki epitel lining yang tidak
berkeratin dan memiliki sel layers sebanyak empat hingga enam
ketebalannya. Kemudian, mungkin ditemukan sel mukosa, sel siliasi, dan
terkadang sel sebaceous pada epitelium lining. Epitelium ini – perlekatan
jaringan konektiv biasanya berbentuk datar, walaupun pada kasus dengan second
inflamasi, nampak adanya bercak – bercak.


6.
Gejala Klinis
Gejala
kista dentigerous tidak terlihat bila masih tahap awal. Kista dentigerous yang
belum mengalami komplikasi seperti kista lainnya tidak akan menyebabkan gejala
sampai pembesarannya nyata terlihat. Meskipun gejala biasa tidak ada, dengan
terlambatnya erupsi gigi semakin besar pula indikasi terjadinya kista
dentigerous. Kista dentigerous dapat dideteksi melalui pemeriksaan radiografis
atau pada saat dilakukan pemeriksaan gigi yang tidak erupsi. Infeksi dapat
menyebabkan gejala umum seperti bengkak yang membesar dan rasa sakit (Sudiono,
2011).
Kista
dentigerous biasanya terdeteksi pada anak-anak, remaja atau dewasa, walaupun
terkadang dapat ditemukan pada orang yang lebih tua. Jenis kista dentigerous
yang berhubungan dengan erupsi gigi sulung dan tetap pada anak dinamakan kista
erupsi atau kista hematoma. Secara klinis, lesi tampak sebagai pembengkakan
linger alveolar diatas tempat gigi yang sedang erupsi. Saat rongga kista sirkumkoronal berisi darah,
pembengkakan tampak ungu atau sangat biru sehingga dinamakan erupsi hematoma
(Sudiono, 2011).
Kista
dentigerous umumnya berkaitan dengan gigi molar tiga dan caninus maksilaris,
yang mana paling banyak diakibatkan karena gigi yang impaksi. Insidensi
tertinggi dari kista dentigerous adalah saat usia 20-30 tahun. Gejalanya yaitu
terlambatnya erupsi gigi menjadi indikasi utama pembentukan kista dentigerous.
Kista ini mampu berkembang hingga ukuran yang besar, kadang-kadang disertai
dengan ekspansi tulang kortikal. Kista dengan ukuran yang besar juga dapat
disertai dengan pembengkakan intraoral, ekstra oral maupun keduanya. Dengan
ukuran ini juga dapat menyebabkan wajah yang menjadi asimetris, pergeseran
gigi. Kista dapat berkembang menjadi infeksi sekunder yang mana bermanifestasi
menyebabkan nyeri pada sekitar kista. Saat tidak ada infeksi, secara klinis
pembesarannya minimal dan berbatas tegas. Kista yang infeksi menyebabkan rasa
sakit dan sensitive bila disentuh. Semua tanda infeksi akut dapat terlihat
ketika terjadi infeksi (Yuli fitriana, 2014).
7. Diagnosa Banding
Diagnosis
banding radiolusensi perikoronal kista dentigerous meliputi odontogenik
keratosis, ameloblastoma, dan tumor odontogenik. Transformasi ameloblastik dari
dentigerous cyst lining juga bisa menjadi diagnose banding. Tumor odontogenik
adenomatoid bisa menjadi pertimbangan apabila ada radiolusensi perikoronal
anterior, dan fibroma ameloblastik apabila ada lesi yang terjadi di rahang
posterior pasien usia muda.
8. Komplikasi
Komplikasi yang dapat
terjadi dari kista dentigerous di antaranya:
a. Kista yang terjadi pada
rahang atas dapat menyumbat dan merubah posisi maxillary antrum dan
rongga hidung, terutama kista yang berukuran besar.
b. Kista yang terjadi pada rahang bawah dapat menyebabkan parestesi dan dapat terjadi perubahan displastik.
b. Kista yang terjadi pada rahang bawah dapat menyebabkan parestesi dan dapat terjadi perubahan displastik.
9. Prognosis
Prognosis dari kista dentigerous
ialah baik dan jarang terjadi rekurensi apabila kista diambil sempurna
(Motamedi dan Talesh, 2005).
10. Penatalaksanaan
Kista dentigerous biasanya mudah
diangkat dengan cara enukleasi, dimana pada gigi yang berhubungan juga
dilakukan ekstraksi. Enukleasi dari kista tersebut juga dapat dilanjutkan
dengan perawatan ortodontik untuk menahan gigi yang bersangkutan (misalnya
kaninus maksila).
Untuk kista yang lebih besar harus
dilakukan marsupialisasi, karena apabila dilakukan enukleasi dan ekstraksi akan menyebabkan kerusakan saraf dan pembuluh
darah pada gigi serta struktur anatomi disekitar. Seperti sinus maksilaris,
rongga nasal ataupun rongga orbita.
Pada kasus dimana kista hampir
memenuhi sebagian besar mandibula, tindakan awalm dilakukan ialah exteriorization atau marsupialisasi
kista sehingga terjadi dekompresi dan penyusutan pada lesi, dengan demikian
akan mengurangi daerah pembedahan pada nantinya. Untuk mendapatkan akses ke
kista, dilakukan dengan cara membuat flap mukoperiosteal yang cukup (Carrera,
2013).
adenomatoid odontogenik tumor
Menurut WHO, AOT didefinisikan
sebagai tumor dari odontogenic epithelium dengan struktur menyerupai duktus
disertai berbagai tingkat perubahan jaringan ikat sekitarnya.
AOT ditandai dengan
pembentukan ductlike atau seperti struktur mawar dengan komponen epitel, jinak, hamartomatous, non-invasif, dan memiliki tingkat
kekambuhan rendah. Disamping itu, Tumor
adenomatoid odontogen tertanam dalam stroma jaringan ikat matang dan ditandai
dengan pertumbuhan yang lambat.
AOT umumnya intraosseous, tetapi
juga dapat terjadi di lokasi perifer. Munculnya
tumor adenomatoid dapat menyebabkan ekspansi dari tulang yang mengelilinginya
serta kesalahan letak gigi, proses perkembangan tumor yang cenderung lambat dan
tanpa rasa sakit membuat penderita dapat mentoleransi pembengkakan selama
bertahun-tahun hingga menghasilkan perubahan bentuk wajah yang dapat mengganggu
penampilan.Tumor ini biasanya berhubungan dengan gigi yang tidak erupsi,
sebagian besar merupakan gigi kaninus atau insisif ke dua.
1.
Insidensi
AOT umumnya ditemukan pada wanita muda. AOT
adalah 3-7% dari semua tumor odontogenik dan frekuensi relatif 2,2-7,1%. Dari
74% kasus yang dilaporkan tumor ini berkaitan dengan gigi impaksi. Tumornya kadang-kadang
disebut sebagai tumor dua pertiga karena 2/3 kasusnya terjadi pada rahang atas,
sekitar 2/3 korbannya adalah wanita muda, 2/3 kasusnya menyerang gigi, 2/3 gigi
yang terkena adalah gigi taring.
AOT dihadapi sebagian besar pada
pasien muda, terutama dalam dekade kedua kehidupan, dan jarang pada pasien yang
lebih tua dari usia 30 tahun. Perempuan dipengaruhi oleh AOT lebih sering
daripada laki-laki, dengan laki-laki: rasio laki-laki 1,9:1. Perempuan bahkan
lebih ditandai dalam populasi Asia, di negara Asia perbandingannya mungkin
mencapai 1:3,2.Insiden tertinggi wanita sedang diamati di Sri Lanka (3.2:1) dan
Jepang (3:1).Rahang atas lebih sering terjadi hampir dua kali lebih sering
daripada di mandibula, dan bagian anterior rahang lebih sering terlibat
daripada bagian posterior. Unerupted maxillary canine adalah gigi yang paling
sering dikaitkan dengan AOT.
2. Etiopatogenesis
Tumor adenomatoid odontogenik
berasal dari epitel enamel organ. AOT biasanya padat ,
tapi kadang-kadang fibrosis. Karena neoplastik dan lesi hamartomatous dapat terjadi
pada setiap tahap odontogenesis, tumor
odontogenik dengan gabungan fitur epitel dan mesenchymal komponen
mungkin timbul dalam kista odontogenik. Pembentukan AOT terjadi sebelum perubahan
cystic, maka AOT akan mengisi ruang folikel dan hadir sebagai
tumor padat. Kadang-kadang AOT mengembangkan sebagai pertumbuhan mural dikista dentigerous.
Terjadi
dalam area rahang dan sering ditemukan di dekat dengan gigi yang dalam proses erupsi, memiliki fitur sitologi yang mirip dengan berbagai
komponen enamel organ, lamina gigi, dan sisa-sisanya. AOT menjadi hamartoma menunjukkan ukuran
yang terbatas pada sebagian besar kasus dan kurang kambuh. AOT yang telah terdeteksi dan diobati
selama bertahun-tahun, mengakibatkan asimetri wajah dan distorsi. Secara histologis, jaringan lesi
menunjukkan lebih besar dari penataan normal odontogenic daripada yang
diharapkan pada anomaly perkembangan.
3.
Klasifikasi
1.
Intraosseously
Intraosseous AOT radiographically:
i.
folikular (atau pericoronal), lesi
central dalam tulang yang berhubungan dengan gigi yang tidak erupsi. Dijumpai
pada 70% kasus. Pada radiografi
nampak radiolusen unilokuler dosekeliling mahkota gigi dan sering merupakan bagian
akar dari gigi yang tidak erupsi.
ii.
extrafollicular (atau extracoronal),
lesi di dalam tulang tapi tidak berkaitan dengan gigi impaksi (pada 25% kasus).
iii.
tipe perifer, bentuk yang paling jarang,
tumbuh pada jaringan gingiva.
2.
Extraosseously
Perifer atau gingiva jenis AOT
jarang terdeteksi radiographically, tapi mungkin ada sedikit erosi tulang
alveolar mendasari cortex.
4. Gejala klinis
·
Keluhan adanya pembengkakan pada regio kanan wajah
·
susah
bernafas
·
Tidak
ada rasa nyeri yang berhubungan dengan pembengkakan.
5.
Gambaran
Klinis
a.
Ekstraoral
·
Terdapat
pembengkakan pada maxila sampai ke hidung di bawah batas infraorbital
·
Asimetri wajah.
·
Bentuk ireguler dan ukuran kira-kira 2x3 cm memanjang superior sampai batas
infraorbital, lateral ke tulang zigomatikus, dan inferior ke nasolabial fold.
·
palpasi,
pembengkakan
memiliki konsistensi padat kenyal dan tidak bisa digerakkan.
·
Permukaan
halus dan batas jelas
b.
Intra
Oral
·
Pembengkakan
tampak pada verstibulum bukal
·
Pembengkakan
kecil yang halus dengan tepi yang jelas pada wilayah rahang
·
Pembengkakan
berbentuk oval dengan ukuran kira-kira 2x1,5 cm
·
Disertai dengan kondisi gigi caninus kanan atas yang impaksi
·
Nyeri
ringan bila ditekan
c.
Radiografi
·
Terdapat gambaran radiolusen dengan fokus radiopak berlokasi superior dekat
dengan margin bawah dari orbit berhubungan dengan gigi impaksi memanjang
melebihi CEJ
·
Menyebabkan resorpsi akar
Radiolusen unilocular pada rahang dengan
ekspansi dan penipisan semua dinding tulang
a. Histopatologi
i.
Makroskopik
·
Tumor
berwarna coklat dengan ukuran kira-kira 5x3 cm dan diambil bersama gigi kaninus
yang impaksi
·
Gigi
yang berhubungan dengan lesi dan menunjukkan resorpsi akar juga diekstraksi
·
Tampak
pada daerah padat yang dilapisi epitel didapatkan beberapa struktur duktus yang
dibatasi oleh sel kuboid atau sel kolumnar tinggi.
ii.
Mikroskopik
Secara
mikroskopik AOT biasanya dikelilingi oleh kapsul jaringan ikat yang berkembang dengan baik. Bentuknya bisa padat, atau ruang kistik tunggal
yang besar, atau ruang kistik kecil yang banyak. Selain itu ditemukan pula benda amorf,
eosinophilik, uncalcified, yang disebut “tumor droplets”.
Tumor ini terdiri dari sel-sel epitel berbentuk spindle , polygonal, atau membentuk lembaran dan melingkar dalam stroma jaringan ikat. Lesi tumor tersusun dari jaringan seluler yang terdiri
dari banyak sel kuboidal dan kolumnar yang tersusun dalam bentukan seperti
lingkaran, ductus, seperti cincin, dan pola seperti pita. Antara sel-sel epitel serta di pusat struktur roseta adalah material eosinophilia amorf. Struktur saluran dilapisi oleh satu
baris sel epitel kolumnar, inti yang terpolarisasi jauh dari lumen pusat. Lumen mungkin kosong atau berisi
materi eosinofilik amorf. Pengapuran distrofi dalam
jumlah yang bervariasi dan dalam berbagai bentuk biasanya ditemui di AOT,
dalam struktur seperti lumen, tersebar di
antara massa epitel,
atau dalam stroma.
Dalam
beberapa duktus, pita material eosinofilik membatasi lapisan sel tunggal pada
sisi luminal. Beberapa area menunjukkan sel tersusun dalam lapisan multipel.
Diantara
tiap lapisan, pita eosinofilik
memberikan tipe rossette pada tumor. Area sel ini tersusun dalam pola
padat. Material eosinofilik tersebar
melalui bagian-bagian dengan area kecil
kalsifikasi.
- Diagnosis
banding
- kista
dentigerous
- Pengapuran
kista odontogenik
- Pengapuran
tumor odontogenik
- Uni
ameloblastoma kistik
- Kista
kerato odontogenik
- Prognosis
Prognosis baik, tingkat kambuhnya
tumor adenomatoit sangat rendah (0,2%).
- Penatalaksanaan
Tumor odontogenik adenomatoid
dilakukan
setelah FNAC atau Fine needle aspiration cytologi yang dilakukan dengan pasien
dibawah anastesi general. Perlu
untuk melaksanakan
operasi agresif dan luas. AOT jinak, lesi dikemas, dan enukleasi bedah konservatif atau kuretase adalah pengobatan pilihan. Diagnosis
histologis akurat adalah wajib untuk menghindari operasi mutilasi yang tidak
perlu.
Enukleasi lesi dilakukan dengan anastesi
lokal untuk benar-benar membasmi lesi kistik dengan terlibat berdampak kaninus
kiri atas. Enukleasi bedah konservatif adalah modalitas pengobatan pilihan.
Untuk cacat intrabony periodontal disebabkan oleh AOT dipandu regenerasi jaringan
dengan teknik membrane yang disarankan setelah penghapusan lengkap tumor. Enukleasi kista
dilakukan dengan anestesi lokal bersama dengan penghapusan caninus yang terimpaksi,
supernumerary, dan gigi premolar pertama. Isinya berupa cairan kekuningan coklat. Setelah
4 minggu, perawatan saluran akar dilakukan pada premolar kedua kiri dan molar
pertama. Sebuah prostesis tetap diberikan dan tidak kambuh diamati selama 6
bulan ke depan.
Di bawah anastesi endotrakeal, pada
bibir di lakukan mukoperiosteal flap, membentang dari kanan ke kiri daerah premolar, diperbesar. Pada bukal plate
dibagian anterior mandibula terlihat menjadi sangat tipis dan dibeberapa daerah
telah terkikis. Massa tumor ditemukan menempati
daerah seluruh dagu (fig 4) dan enukleat bersama dengan tidak tumbuhnya
kaninus kiri bawah (fig 5), lingual plate ditemukan perforasi menjadi satu. Tidak ada gigi anterior yang
melekat pada tumor dan oleh karena itu di biarkan tetap pada posisi klinis
semula hingga paska oprasi.Specimen, termasuk gigi kaninus diteliti secara
histology.Hasil cacat tulang dibiarkan agar diisi dengan darah pasien sendiri.
Red-vac dibersihkan sebelum bukal flap dijahit kembali ke posisi semula.
Pemulihan paska oprasi lancer dan penyembuhan dari operasi kembali normal.
DAFTAR PUSTAKA
Garg
D, dkk. 2009. Adenomatoid Odontogenic Tumor – Hamartoma Or True Neoplasm: A
Case Report. Journal of Oral Science, Vol. 51, No. 1,
155-159, 2009. Available from http://jos.dent.nihon-u.ac.jp/journal/1/155.pdf
Gomez RS, dkk. 2013. Adenomatoid odontogenic
tumor associated with odontoma: a case report and critical review of the
literature. Head Face Med. 2013 Aug 9;9:20. doi:
10.1186/1746-160X-9-20. Available
from http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/23938090
Haidar,
Zohair. 1997. Adenomatoid Odontogenic Tumor, Case Report. The Saudi Dental Journal, Volume 9 Number 3,
September-December 1997. Available from http://repository.ksu.edu.sa/jspui/bitstream/123456789/7860/1/Adenomatoid%20odontogenic%20tumor%3A%20case%20report.pdf
Katpar S, dkk. 2010. Maxillary Adenomatoid Odontogenic
Tumour. An Uncommon Oral Pathology, Reported Locally. JLUMHS Vol: 09 No. 03. Available from http://beta.lumhs.edu.pk/jlumhs/Vol09No03/pdfs/v9n3cr01.pdf
Kelgandre DC, dkk. 2014. An Unusual Presentation of Extra‑Follicular
Variant of Adenomatoid Odontogenic Tumor: A Rare Case Report. Journal of Dental
Research and Scientific Development Vol 1 Issue 2. Available from http://www.iadrsd.org/wp-content/journal/JDRSD_10_14R3.pdf
Philipsen HP and
Nikai H. 2005.Adenomatoid Odontogenic Tumor. In: Pathology and Genetics of Head
And Neck Tumors. Barnes L, Eveson JW, Reichart P, Sidransky Deds, IARC Press,
Lyon, 304-305
Saluja H, dkk.
2013. A Rare Occurrence of Adenomatoid Odontogenic Tumor Arising From Cystic
Lining In The Mandible: Review With A Case Report. Journal of Orofacial
Sciences Volume 5 Issue 1 Page 50-53 Year 2013. Available from http://www.jofs.in/article.asp?issn=0975-8844;year=2013;volume=5;issue=1;spage=50;epage=53;aulast=Saluja
Shreedhar B, dkk.
20012. A Huge Adenomatoid Odontogenic Tumor of Maxilla. Case Reports in
Medicine Volume 2012. Available from http://www.hindawi.com/journals/crim/2012/317341/
Vasudevan,
dkk. 2012. Adenomatoid odontogenic tumor, an uncommon tumor. Contemp Clin Dent. 2012 Apr - Jun; 3 (2): 245 – 247.
Available at http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3425119/
Langganan:
Komentar (Atom)








